Jumat, 23 Desember 2016

Slide Paper Perancangan Business Continuity Plan












Paper Perangcangan Business Continuity Plan

PERANCANGAN BUSINESS CONTINUITY PLAN
Studi kasus : GTO (Gardu Tol Otomatis)

Andre Arsanto
Jurusan Teknik Informatika
Universitas Trisakti
Jl. Kyai Tapa No.1, Grogol, Jakarta Barat 11440

ABSTRAK
Business Continuity Plan atau yang biasa disebut dengan Perencanaan Kontinuitas Bisnis adalah salah satu perencanaan yang harus dimiliki oleh setiap perusahaan karena setiap organisasi atau perusahaan pasti memiliki risiko maupun ancamannya tersendiri. BCP dibutuhkan untuk melengkapi dan memperkuat system sehingga dapat menjadi system yang handal. Beberapa tahapan perancangan BCP yang harus dikerjakan dimulai dari tahap risk assessment, business impact analysis, mitigation strategy development, BC development, training,testing,auditing, dan BC maintenance.
BCP ini diharapkan berguna ntuk meminimalkan segala dampak dan risiko dari suatu ancaman yang dapat terjadi, untuk menjaga kelangsungan suatu proses bisnis, terutama pada proses bisnis yang bersangkutan dengan bidang IT, dan meningkatkan kemampuan perusahaan untuk pemulihan saat terjadinya suatu bencana dan gangguan sesegera mungkin pada e-Toll.
GTO atau gardu tol otomatis,sebutan baru dari bentuk pembayaran tol dalam kota. pembayaran ini tidak sama seperti yang biasanya anda lakukan,yaitu pembayaran dengan membayar uang cash. GTO atau gardu tol otomatis ini hanya bisa dilewati jika anda mempunyai kartu GTO. Kartu GTO hampir mirip dengan kartu flash,bedanya kartu tersebut anda gunakan untuk membayar tol. Kartu GTO tersebut bisa anda dapatkan di bank Mandiri terdekat.



I.     PENDAHULUAN


Business Continuity Plan adalah kemampuan perusahaan atau organisasi untuk dapat tetap melanjutkan proses bisnis yang kritikal dalam situasi normal maupun gangguan/bencana. Para pelaku bisnis melakukan perencanaan Business Continuity Plan agar dapat mengantisipasi bencana yang datang dengan tidak terduga. Bencana bisa berupa apa saja yang menimbulkan kerusakan atau kehilangan dalam jumlah besar. Contoh dari bencana adalah banjir, gempa bumi, kebakaran, demonstrasi merusak, dan lain sebagainya. Akibat bencana yang datang sangat cepat, tidak terduga dan tidak memiliki suatu prosedur dalam menanggapinya, maka bisnis perusahaan akan kandas.
Pelayanan publik oleh aparatur pemerintah dewasa ini masih banyak dijumpai adanya kelemahan sehingga belum dapat memenuhi kualitas yang diharapkan masyarakat. Hal ini ditandai dengan masih adanya berbagai keluhan masyarakat yang disampaikan melalui media masa, sehingga dapat menimbulkan citra yang kurang baik terhadap aparatur pemerintah. Negara dalam hal ini pemerintah (birokrat) haruslah dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Kebutuhan tersebut bukanlah kebutuhan secara individual akan tetapi berbagai kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan masyarakat, misalnya kebutuhan akan kesehatan, pendidikan, transportasi,dan lain-lain.
Fenomena yang sering dijumpai dalam masalah pelayanan publik yang sering terjadi salah satunya adalah layanan transportasi darat, laut dan udara. Transportasi pada umumnya termasuk kereta dan bis, namun juga termasuk pelayanan maskapaipenerbangan, feri, taxi, dan lain-lain. Pada umumnya masalah transportasi yang sering terjadi yaitu transportasi darat, dimana masalah yang paling utama terjadi di jalan raya yaitu kemacetan lalu lintas. Kemacetan tersebut terjadi karena adanya peningkatan jumlah kendaraan, dimana tiap tahunnya selalu bertambah,berikut tabel peningkatan jumlah kendaraan trasportasi di Indonesia. Jumlah kendaraan pada setiap tahunnya mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 sampai tahun 2011 mengalami peningkatan yang lebih pesat dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dimana dari 76.907.127 unit kendaraan menjadi 85.601.351unit kendaraan. Peningkatan jumlah kendaraan yang tiap tahunnya mengalami kenaikan tidak diimbangi dengan keadaan jalan raya yang baik, misalnya kapasitas jalan lebih kecil daripada jumlah kendaraan yang ada, sarana pengatur lalu lintas yang tidak berjalan dengan baik, dan lain-lain. Jumlah kendaraan yang meningkat seharusnya diimbangi dengan peningkatan pelayanan transportasi publik khususnya transportasi di darat baik meningkatkan kualitas maupun kuantitas.
Jika jumlah kendaraan yang beredar disuatu daerah jauh melebihi luas jalan yang ada maka akan menimbulkan kemacetan lalu lintas. Seharusnya, masalah kemacetan tidak hanya tanggung jawab pemerintah daerah, tetapi juga merupakan tanggung jawab Kementrian Perhubungan, mulai dari armada jalan raya sampai dengan keselamatan penumpang, termasuk juga antisipasi kepadatan kendaraan disuatu daerah. Masalah transportasi darat merupakan masalah yang sering terjadi di negara berkembang, karena di negara berkembang tingkat pertumbuhan penduduk cukup tinggi, sehingga berimbas pada pengguna jasa transportasi yang meningkat tajam. Penyebab permasalahan transportasi darat di Indonesia antara lain: mulai terbatasnya sarana dan prasarana transportasi, terjadinya urbanisasi yang cepat, tingkat kedisiplinan lalu lintas yang rendah, semakin jauh pergerakan manusia setiap harinya, dan system perencanaan transportasi yang kurang baik. Sehingga kemacetan, kecelakaan,gangguan kesehatan, dan permasalahan lingkungan tidak dapat dihindari lagi. Dalam mengantisipasi masalah sebagaimana dijelaskan di atas, pemerintah melakukan pembangunan jalan tol, dimana jalan tol dibangun untuk memperlancar lalu lintas.
Penggunaan jalan tol selama ini dikenakan kewajiban membayar tol yang digunakan untuk mengembalikan investasi, pemeliharaan dan pengembangan jalan tol. Pembangunan jalan tol tersebut tidak berjalan dengan yang diharapkan karena masih terjadi masalah kemacetan di jalan tol,misalnya saja kemacetan yang terjadi di depan pintu tol yaitu tempat pembayaran tarif tol. Masalah yang terjad isebagaimana dijelaskan diatas, karena kurangnya kesadaran pengguna layanan jalan tol, dimana sudah terdapat pemberitahuan kepada para pengguna layanan yang masuk pintu tol diharuskan untuk membayar tarif pintu tol dengan uang pas sesuai dengan tarif yang telah ditentukan, akan tetapi para pengguna layanan masih saja banyak yang tidak menghiraukan perintah untuk masuk pintu tol harus menggunakan uang pas. Seharusnya akan lebih baik apabila pengendara memiliki uang pas untuk membayarnya, namun apabila tidak memiliki uang yang lebih besar dari harga yang telah ditetapkan, maka orang harus menunggu untuk menerima uang kembalian yang akan membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama, sehingga hal tersebut tidak efisien. Kemacetan yang terjadi di jalan tol tidak hanya kemacetan yang terjadi di depan pintu gerbang tol, akan tetapi kemacetan yang terjadi karena adanya kerusakan jalan dan kepadatan jumlah kendaraan yang menggunakan layanan jasa tol. Dalam mengurangi tingkat kemacetan yang terjadi dijalan tol,maka PT. Jasa Marga mengeluarkan strategi baru untuk memperbaiki kualitas pelayanan dan untuk meningkatkan pelayanan yang diberikan kepada pengguna jasa transportasi darat khususnya di jalan tol. Salah satunya dengan membuat kebijakan peluncuran alat pembayaran yang lebih efisien dengan menggunakan kartu yang diberi nama E-Toll untuk mengantisipasi kemacetan yang disebabkan antrian di pintu tol tempat pembayaran dilakukan.

II.  LANDASAN/KERANGKA PEMIKIRAN
     Pada akhir 1990-an, Business Continuity Plan (BCP) hadir untuk mencoba menilai kemungkinan dari kegagalan sistem dalam lingkup dunia bisnis [4]. Istilah BCP dalam bahasa Indonesia biasanya dikenal dengan PKB (Perencanaan Kontinuitas Bisnis).
     Menurut [2], BCP adalah suatu metodologi yang digunakan untuk menciptakan dan memvalidasi perencanaan untuk menjaga kelanjutan operasional bisnis sebelum, selama, dan setelah kejadian bencana dan kerusakan terjadi. Perencanaan harus dibuat dengan memperhatikan potensi risiko yang bisa terjadi, baik berupa bencana maupun kegagalan sistem, sehingga sistem yang merupakan penunjang proses bisnis akan tetap dapat berfungsi dengan baik.
     Dalam BCP, komponen bisnis yang terlibat dalam suatu organisasi, meliputi manusia, proses, teknologi. Seperti dalam [2] , di dalam membuat sebuah dokumen BCP, terdapat beberapa tahapan yang harus dikerjakan, yaitu :
1.    Project Initiation
2.    Risk Assessment
Risk Assessment (penilaian resiko) adalah suatu proses untuk mengidentifikasi bahaya potensial dan menganalisa apa yang akan terjadi jika bahaya tersebut terjadi. Ada berbagai macam bahaya yang harus dipertimbangkan.
3.    Business Impact Analysis
Analisa dampak bisnis adalah pemahaman akan proses mana yang vital dalam suatu bisnis untuk berjalannya operasional dan untuk mengerti dampak dari terganggunya proses – proses tersebut.
4.    Mitigation Strategy Development
Mitigasi risiko didefinisikan sebagai pengambilan langkah – langkah untuk mengurangi efek-efek samping. Tahap ini adalah proses yang biasa digunakan dalam manajemen risiko, tetapi dalam hal ini mitigasi risiko juga berkaitan dengan kelangsungan bisnis dan pemulihan bencana. BC/DR Plan Development.

Bencana adalah mendadak, kejadian sangat membahayakan yang mengganggu fungsi dari suatu komunitas atau masyarakat dan menyebabkan manusia, material, dan ekonomi kehilangan kemampuannya untuk menggunakan sumber daya sendiri [3].
Puncak dari semua tahap pengembangan business continuity telah selesai ketika mencapai tahap ini. Pada tahap ini, semua tahap yang telah dijalankan akan menghasilkan sebuah BCP yang nantinya akan dijalankan dalam suatu organisasi atau perusahaan.

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian BCP

III.     METODOLOGI PENELITIAN
     Penelitian diawali dengan mengumpulkan data-data pendahuluan yang diperlukan, data tersebut diperoleh dari dokumen internal perusahaan seperti kebijakan perusahaan, struktur organisasi, SOP, infrastruktur TI, dan dokumentasi bencana yang pernah ada. Data internal perusahaan tersebut kemudian digunakan sebagai bahan inputan dalam menentukan ruang lingkup pada perancangan BCP yang akan dilakukan. Kemudian setelah ruang lingkup penelitian di tetapkan maka dilakukan pengumpulan data-data kemungkinan ancaman dan peluang potensi terjadinya bencana, baik dari sumber internal maupun dari sumber eksternal perusahaan, kemudian data tersebut digunakan sebagai inputan dalam proses identifikasi kemungkinan dan potensi ancaman terhadap perusahaan. Selanjutnya dalam proses analisa Risk Assessment yang akan menghasilkan matriks Risk Assessment dan untuk selanjutnya kemudian dilakukan pengumpulan data untuk di proses dalam Business Impact Assessment malalui kuesioner, wawancara, atau diskusi. Berdasarkan hasil Risk Assessment dan Business Impact Assessment tersebut, maka dilakukan pencarian alternative dan pemilihan rencana strategi BCP yang menjadi acuan pokok Jurnal Informatika dan Bisnis 4 dalam penyusunan dokumen BCP.

Gambar 2. Tahapan Penelitian
IV.     HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan studi dokumen dan hasil wawancara mendalam diperoleh data tentang proses bisnis, kondisi SI/TI dan analisis resiko pada e-Toll maka segera dirumuskan Risk Assessment, Bisnis Impact Analysis, dan Strategy Plan.

4.1 Risk Assessment
Pada Risk Assessment dilakukan identifikasi kemungkinan gangguan/bencana yang disusun berdasarkan dokumen tanggap darurat di printgila dikombinasikan dengan penelitian-penelitian sebelumnya, sementara daftar proses bisnis di peroleh dari analisa SOP (Standard Operating Procedure) perusahaan.
Pada table 1, hasil risk assessment menjelaskan proses bisnis yang ada pada layanan Gardu Tol Otomatis dan bagaimana peringkat bencana tersebut. Peringkat tertinggi ada pada kebakaran, dan yang terendah ada pada cyber attack.
Dari tahap Risk Assessment dapat diketahui secara keseluruhan dampak peringkat potensi gangguan seperti pada tabel 2. Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kebakaran berada pada peringkat pertama. Berdasarkan itu pula, gangguan cyber attack memiliki tingkat ancaman yang rendah.


Tabel 1. Hasil Risk Assessment

Tabel 2. Peringkat Dampak Potensi Gangguan Bencana Terhadap e-Toll
4.2 Business Impact Analysis
Pada penelitian ini mengguanakan efek level adalah 1 (aspek minor pada organisasi, severity 10); 2 (aspek moderat pada satu unit, severity 25); 3 (aspek moderat pada organisasi atau banyak unit, severity 60); 4 (aspek catastrophic pada satu unit, severity 80); 5 (aspek catastrophic pada seluruh organisasi, severity 100). Selanjutnya dilakukan identifikasi Maximum Acceptable Outage Time (MAOT) atau durasi waktu maksimum pemberhentian operasi sebelum mempengaruhi operasional atau menimbulkan dampak yang tidak bisa diatasi untuk tiap proses bisnis. Pengklasifikasian MAOT yang dipergunakan adalah 1,0 (MAOT<2 hari); 0,8 ( 3≤MAOT<6 hari); 0,6 ( 6≤MAOT<11 hari); 0,3 (11≤MAOT<14 hari); 0,1 (MAOT≥ 14 hari). Pada table ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kritikal dari setiap proses bisnis. Dari table dibawah, proses bisnis yang ada di kategori high ada 3 proses bisnis, 3 proses bisnis di kategori medium.


  Tabel 3 Matriks Business Impact Analysis

Selanjutnya pada Tabel 4. Menjelaskan skala waktu target pemulihan proses GTO. Pada table 4 dirincikan beberapa proses pada GTO. Beberapa proses seperti proses menempelkan e-Toll berada pada tingkat high sedangkan proses penyerahan e-Toll di gardu keluar tol berada pada tingkat low.

  Tabel 4. Skala Waktu Target Pemulihan

Mengacu pada penelitian terdahulu, maka analisis kebutuhan sumber daya minimum bias dibedakan dalam dua kondisi bencana/gangguan berdasarkan asumsi lamanya penelitian bencana akan terjadi.
Jika jangka pendek apabila perkiraan lama bencana akan terjadi antara 0 sampai 7 hari, jika jangka panjang apabila perkiraan lama bencana akan terjadi >7 hari, kemudian dilakukan inventarisasi kebutuhan sumber daya yang diperlukan untuk menjalankan proses bisnis tersebut selama periode bencana.
Dalam penelitian ini hanya dilakukan identifikasi kebutuhan sumber daya jangka pendek. Identifikasi kebutuhan sumber daya jangka panjang tidak dilakukan dengan asumsi pada proses e-Toll apabila terjadi bencana dalam waktu cukup lama maka proses diundur atau dilakukan pencatatan secara manual. Selain itu pada Tabel 5 terlihat hasil identifikasi sumber data minimum yang harus dipenuhi pada saat melayani pelanggan pada saat kritikal. Terlihat pada saat proses kritikal e-Toll sumber daya minimum yang harus ada adalah Vital Record dan Desk.

Tabel 5. Identifikasi Kebutuhan Sumber Daya Minimum

4.3 Rekomendasi
Untuk mengurangi resiko kerugian yang disebabkan bencana alam maka rekomendasi yang diusulkan adalah:

a.       Strategi Backup Hardware
Potensi gangguan bencana pada gempa bumi, kebakaran, banjir, secara langsung yang dapat mengakibatkan masalah pada hardware dapat diantisipasi dengan melakukan perjanjian dengan vendor dalam hal pengadaan hardware, menggunakan hardware yang umum dipakai, dengan konsekuensi peralatan harus di update secara berkala agar tetap uptodate dengan perkembangan hardware, dan Software juga harus dikelola dengan baik agar kompatibel dengan hardware yang digunakan oleh proses bisnis yang kritikal.

b.       Strategi Backup Data
Ada tiga jenis penyimpanan data dalam tag RFID. Ini adalah baca-tulis, hanya membaca dan WORM (menulis pernah membaca berkali-kali). Data Sebuah tag read-write s dapat ditambahkan ke atau ditimpa. Baca tag hanya memiliki data yang hanya dapat dibaca, tidak ditambahkan atau ditimpa. Tag WORM dapat memiliki data tambahan tetapi tidak dapat ditimpa. Tag RFID(transfonder) akan mengenali diri sendiri ketika mendekteksi sinyal dari perangkat yang hanya dapat dibaca saja (Red only) dibaca dan ditulis (Read/Wtite) sekali tulis dan banyak baca (write once read many) juga tidak memerlukan kontak langsung maupun jalur cahaya untuk dapat beroperasi RFID dapat berfungsi pada berbagai variasi kondisi lingkungan dan menyediakan tingkat integritas data yang tinggi.

c.       Prosedur Eskalasi dan Aktifasi
Ini adalah strategi mitigasi yang diterapkan ditopang dengan prosedur dan adaptasi untuk membiasakan karyawan agar mengetahui bagaimana proses evakuasi apabila terjadi bencana.

d.       Strategi Backup Electricity Supply
Potensi terhentinya layanan yang diakibatkan terhentinya alat-alat akibat ketidaktersediaan pasokan listrik, dapat diantisipasi dengan penggunaan UPS (Uninterupted Power Supply), terutama untuk alat-alat elektronik yang digunakan oleh proses kritikal. Sementara itu yang lain bisa juga digunakan genset.
4.4 Implikasi Penelitian
1. Implikasi penelitian pada Manajerial adalah :
a.    Pembentukan Tim Kerja BCP harus secara formal dan terdapat job description harus jelas.
b.    BCP membuka kesadaran dan pengetahuan manajerial dalam pentingnya keselamatan dan kelanjutan proses bisnis setelah terjadinya bencana secara terencana dan terarah.
c.    Manajemen mempertimbangan kesiapan dan kemampuan dalam menghadapi segala kemungkinan bencana yang terjadi untuk meminimalkan dampak kerugian dan percepatan pemulihan bisnis.

2. Implikasi penelitian pada Sistem adalah :
a. BCP dibuat lebih detil terutama dalam hal prosedur, testing, dan maintenance sehingga BCP dapat di evaluasi dikemudian hari.
b. Akan mengharuskan adanya tambahan biaya karena menggunakan peralatan cadangan, contoh : backup data server, dll.
c. BCP memiliki dampak terhadap sistem yaitu mempunyai perencanaan pemulihan yang jelas dan dapat dilaksanakan oleh semua bagian dengan baik dan benar.

3. Implikasi penelitian pada bidang ilmu adalah untuk menambah pustaka keilmuan dalam bidang BCP di industry perccetakan yang berbasis online dimulai dari strategi dalam menghadapi bencana sampai proses pemulihan.

V.     KESIMPULAN

Dari analisis pada hasil akhir Risk Assessment menjelaskan proses bisnis yang menduduki peringkat dan mempengaruhi hasil akhir penilaian resiko proses bisnis utama (Risk Assessment) pada layanan Gardu Tol Otomatis. Peringkat tertinggi berada pada Human Error, Kegagalan Sistem, dan banjir dan tingkat terendah berada pada Cyber Attack.
Untuk menentukan tingkat kritikal, maka tiap proses bisnis ditentukan tingkat dampak yang ditimbulkan jika layanan terhenti (severity of impact). Dari hasil BIA sebagian besar proses bisnis berada pada kategori high dan moderat, yaitu proses perawatan inventori, pencetakan dokumen.
Terdapat juga enam strategi alternative untuk mitigasi bencana yang disesuaikan dengan risk assessment dan business impact analysis yaitu : strategi backup hardware, strategi backup data, prosedur eskalasi, strategi backup electricity supply, dan strategi recovery site.

VI.     DAFTAR PUSTAKA

[1]        Humdiana, “Perancangan Business Continuity Plan: Studi Kasus pada PT. PAM,” Jurnal Informatika dan Bisnis
[2]        Rendy Malik. (2012). Proses Kerja Automatic Line Barrier di PT. Jasa Marga (PERSERO) Tbk. http://publication.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/13493/1/SLIDE%20PI%20RENDY%20MALIK.pdf
[3]        XTicket. (2015). Pengenalan Teknologi RFID (Radio Frequency Identification). http://www.xpressticket.co.id/pengenalan-teknologi-rfid-radio-frequency-identification/
[4]        Alifikram Mughofir. (2014). Teknologi e-Toll dan Penerapannya. http://alifmughofir.blogspot.co.id/2014/12/v-behaviorurldefaultvmlo.html
[5]        Aisah Indryani. (2015). Sistem Informasi Manajemen e-Toll. http://aiinhie.blogspot.co.id/2015/08/sistem-informasi-management-e-toll.html


Kamis, 03 November 2016

Perencanaan Kontinuitas Bisnis

Peran Business Continuity Plan pada Fingerprint di Dojang Taekwondo Kota Bekasi

Andre Arsanto – 06413005
Teknik Informatika
Universitas Trisakti
2016




Abstrak
Pengolahan data absensi Atlet yang dilakukan di Dojang Taekwondo Kota Bekasi saat ini masih berjalan manual yang dapat menyebabkan ketidakakuratan dan dapat menimbulkan celah untuk melakukan kecurangan.



Rabu, 02 November 2016

Perencanaan Kontinuitas Bisnis

PERANCANGAN BUSINESS CONTINUITY PLAN
studi kasus pada :  Dojang Taekwondo Kota Bekasi

Andre Arsanto - 06413005
Jurusan Teknik Informatika


Hasil survey Minggu 2

Tahapan verifikasi Fingerprint di Dojang Taekwondo Kota Bekasi
1. Setiap Atlet yang terpilih untuk mengikuti latihan di Dojang Taekwondo Kota Bekasi akan diverifikasi sidik jarinya
2. Sidik jari sudah selesai diverifikasi
3. Atlet sudah dapat menggunakan Fingerprint setiap datang latihan

Tahapan penggunaan Fingerprint pada saat latihan
1. Atlet datang/menghadiri latihan ke Dojang Kota Bekasi sesuai jadwal
2. Atlet harus melakukan Fingerprint pertama yang berada di samping pintu masuk, berada di dalam GOR sebelum latihan Taekwondo 
3. Setelah melakukan Fingerprint, Atlet melakukan latihan 
4. Selesai latihan Atlet harus melakukan Fingerprint kedua sebagai konfirmasi absen terakhir
5. Atlet boleh pulang ke rumah masing-masing

Perencanaan Kontinuitas Bisnis

PERANCANGAN BUSINESS CONTINUITY PLAN
studi kasus pada :  Dojang Taekwondo Kota Bekasi

Andre Arsanto - 06413005
Jurusan Teknik Informatika

Hasil Survey Minggu 3

Penilaian Risiko (Risk Assessment)


Berikut ini adalah penilaian risiko yang dapat mengganggu kinerja Fingerprint pada Dojang Taekwondo Kota Bekasi

          Kategori Bencana
              Jenis Bencana
                Keterangan
Alam
Banjir
Jika dilihat dari lokasi Dojang Taekwondo Kota Bekasi, banjir juga menjadi salah satu bencana yang bisa memungkinkan terganggunya proses latihan di Dojang Taekwondo Kota Bekasi, karena disekitar lokasi Dojang tidak terdapat saluran air yang memadai sehingga bisa menyebabkan genangan air jika hujan turun secara terus menerus.
Gempa bumi
Jika ditinjau dari sisi lokasi, gempa bumi juga bisa menjadi salah satu penyebab terhentinya latihan di Dojang karena bangunan yang kurang kuat/kokoh
Manusia
Sabotase dan pencurian
Bencana ini juga bisa mengganggu berlangsungnya proses latihan di Dojang karena Dojang kurang memiliki keamanan yang memadai
Cyber Attack
Ketika cyber attack (seperti intrusi, hacking) terjadi, maka Fingerprint pada Dojang tidak bisa digunakan sementara. Hal ini bisa menyebabkan fingerprint diverifikasi ulang
Kebakaran
Bencana ini bisa terjadi sewaktu-waktu. Bisa disebabkan karena kelalaian pegawai maupun karena bencana yang terjadi di sekitar area printgila tersebut.
Human Error
Ketika pegawai yang bertugas lalai dalam melakukan tugasnya, latihan di Dojang juga pasti akan terganggu.
Teknologi
Korsleting
Korsleting sewaktu-waktu dapat terjadi karena banyaknya kabel yang kurang tertata rapi di lokasi, sehingga rentan menyebabkan korsleting yang bisa berujung menjadi kebakaran.
Pemadaman Lampu
Pemadaman lampu yang terjadi bisa sangat mengganggu proses latihan karena Dojang belum memiliki fasilitas genset yang ada di lokasi tersebut.
Kerusakan Fingerprint
Jika fingerprint yang ada pada lokasi sedang terjadi masalah dan tidak bisa digunakan, maka absen setiap atlet akan dilakukan manual
Kegagalan sistem
Kegagalan sistem, seperti internet yang secara tiba-tiba down juga akan menyebabkan kegiatan terhenti.


Perencanaan Kontinuitas Bisnis

PERANCANGAN BUSINESS CONTINUITY PLAN
studi kasus pada :  Dojang Taekwondo Kota Bekasi

Andre Arsanto - 06413005
Jurusan Teknik Informatika

Hasil survey Minggu 1

1. Tentang Dojang Taekwondo Kota Bekasi
Dojang Taekwondo Kota Bekasi adalah salah satu tempat latihan cabang olahraga Taekwondo yang ada di Kota Bekasi. Dojang adalah Bahasa Korea yang artinya tempat latihan. Dojang Taekwondo Kota Bekasi ini berlokasi di Pengairan, Bekasi Barat. Hanya atlet terpilih yang dapat latihan di tempat ini. Karena atlet yang mengikuti latihan di tempat ini adalah atlet yang akan membawa nama Kota Bekasi. Atlet yang latihan disini sebelumnya diseleksi melalui Kejuaraan antar Cabang, maksudnya disini adalah kejuaraan antar seluruh club yang ada di Kota Bekasi.
Sistem IT juga diterapkan di Dojang Taekwondo Kota Bekasi ini. Yaitu, absen yang menggunakan fingerprint. Atlet hanya melakukan fingerprint dua kali pada awal sebelum latihan dan akhir setelah selesai latihan. Dengan menggunakan sistem fingerprint ini pelatih tidak kesulitan untuk mengabsen setiap atlet. Hal ini juga sama seperti di setiap kantor perusahaan yang menggunakan sistem absen fingerprint.

Dokumentasi: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvdYiy0_4IMU99gTo2lPnd2as-onKjh1AhONWjtxjtVDM3D5wRuip7z_wkgbQrx3XIlWe1qXdkqcRJx2weRoDto-lY0FFFspFl4McSmeZ82B2WAtgH5U-ME9xWiwoAgcko7uFtzgPhoF0/s1600/IMG_20160219_072857.jpg

Perencanaan Kontinuitas Bisnis

PERANCANGAN BUSINESS CONTINUITY PLAN
studi kasus pada : Dojang Taekwondo Kota Bekasi

Andre Arsanto - 06413005
Jurusan Teknik Informatika
Universitas Trisakti

ABSTRAK
Business Continuity Plan atau yang biasa disebut dengan Perencanaan Kontinuitas Bisnis adalah salah satu perencanaan yang harus dimiliki oleh setiap perusahaan karena setiap organisasi atau perusahaan pasti memiliki risiko maupun ancamannya tersendiri. BCP dibutuhkan untuk melengkapi dan memperkuat system sehingga dapat menjadi system yang handal. Beberapa tahapan perancangan BCP yang harus dikerjakan dimulai dari tahap risk assessment, business impact analysis, mitigation strategy development, BC development, training,testing,auditing, dan BC maintenance.
BCP ini diharapkan berguna ntuk meminimalkan segala dampak dan risiko dari suatu ancaman yang dapat terjadi, untuk menjaga kelangsungan suatu proses bisnis, terutama pada proses bisnis yang bersangkutan dengan bidang IT, dan meningkatkan kemampuan perusahaan untuk pemulihan saat terjadinya suatu bencana dan gangguan sesegera

       I.            Landasan Teori
1.1       Bisnis
               Bisnis adalah suatu organisasi atau sistem ekonomi dimana barang dan jasa dipertukarkan untuk hal lain atau untuk uang yang dapat dimiliki secara pribadi, non-profit, atau milik negara [1].
Di dalam dunia bisnis, seiring dengan berjalannya waktu tentu saja ada banyak ancaman yang akan dihadapi. Seringkali, sebuah organisasi tidak siap untuk menghadapi suatu ancaman karena tidak adanya rencana yang pasti untuk menghadapi ancaman tak terduga tersebut.
Menurut [2], komponen penting dalam bisnis yang harus diterapkan dalam bisnis adalah :
1. Sistem
Sistem dalam suatu proses bisnis adalah yang komponen yang penting, dimana sang owner tidak terkait dalam sistem tersebut, seperti sistem marketing, sistem kontrol, dan sistem sumber daya manusia.
2. Teknologi
Dalam dunia bisnis, teknologi juga berperan penting. Teknologi yang digunakan haruslah mudah, cepat, dan akurat.
3. Manusia
Komponen inilah yang paling penting. Di dalam suatu sistem dan teknologi, manusia-lah yang menjalaninya. Ada 3 aspek yang harus ada didalam diri seseorang, yaitu passion, integrity, dan skill.

1.2  Bencana
Suatu bencana adalah mendadak, kejadian sangat membahayakan yang mengganggu fungsi dari suatu komunitas atau masyarakat dan menyebabkan manusia, material, dan ekonomi kehilangan kemampuannya untuk menggunakan sumber daya sendiri [3].
Akhir-akhir ini kita sering mendengar bencana - bencana yang melanda Jakarta, seperti banjir, kebakaran, dan gempa bumi. Disamping bencana alam tersebut, masih banyak jenis bencana lain seperti ancaman bom dan pencurian yang dapat mempengaruhi lingkungan sebuah organisasi atau perusahaan yang berada di sekitar lokasi kejadian. Bencana yang dimaksud tidak hanya terbatas pada bencana alam. Suatu bencana juga dapat disebabkan oleh manusia, bahkan teknologi. Berikut ini adalah beberapa jenis ancaman yang dapat sewaktu – waktu mengganggu suatu proses bisnis.
Tabel Jenis – jenis Ancaman atau Bencana
Kategori Ancaman
Sub Kategori
Daftar Ancaman
Alam
Geologi
Gempa Bumi
Tsunami
Tanah Longsor
Petir atau Badai
Asap dan Gunung Meletus
Lingkungan
Banjir
Kebakaran
Polusi Udara
Biologi
Wabah Penyakit
Manusia
Manusia
Kebakaran
Pencurian
Sabotase dan perusakan
Terorisme
Ancaman Bom
Human Error
Cyber Attack
Threat
Intrusion
Teknologi
Transportasi
Kegagalan sistem transportasi
Bencana transportasi massal
Sistem Informasi
Kegagalan hardware dan software
Serangan virus, malware

Infrastruktur
Electricity (korsleting)

1.3  Business Continuity Plan
Pada akhir 1990-an, Business Continuity Plan (BCP) hadir untuk mencoba menilai kemungkinan dari kegagalan sistem dalam lingkup dunia bisnis [4]. Istilah BCP dalam bahasa Indonesia biasanya dikenal dengan PKB (Perencanaan Kontinuitas Bisnis).
Menurut [2], BCP adalah suatu metodologi yang digunakan untuk menciptakan dan memvalidasi perencanaan untuk menjaga kelanjutan operasional bisnis sebelum, selama, dan setelah kejadian bencana dan kerusakan terjadi. Perencanaan harus dibuat dengan memperhatikan potensi risiko yang bisa terjadi, baik berupa bencana maupun kegagalan sistem, sehingga sistem yang merupakan penunjang proses bisnis akan tetap dapat berfungsi dengan baik.
Dalam BCP, komponen bisnis yang terlibat dalam suatu organisasi, meliputi:
1.         Manusia
Manusia adalah pihak yang melakukan perencanaan aktual dan implementasi dari BCP. Terdapat beberapa pihak yang berkompeten dalam perancangan BCP. Manajemen, efektivitas dari BCP akan sangat tergantung pada komitmen manajemen untuk menyediakan sumber daya yang dibutuhkan dalam rangka mengidentifikasi, menyusun dan melakukan kebijakan strategi terhadap prosedur BCP.
2.         Proses
Proses dalam BCP  memiliki dua tahap, yaitu tahap perencanaan dan tahap implementasi. Proses suatu organisasi yang biasa dijalankan sehari – hari adalah kunci keberhasilan bisnis untuk jangka waktu yang panjang. Proses ini dikembangkan untuk mengelola tugas – tugas bisnis secara terus – menerus. Jika bisnis anda terkena bencana, seperti kebakaran, banjir, dan gempa bumi, proses bisnis anda akan terganggu. Seberapa cepat pemulihan ini dilakukan sampai bisnis dapat berjalan lagi tergantung pada proses yang digambarkan dalam business continuity.
3.         Teknologi
Sudah jelas bahwa teknologi adalah bagian yang sangat familiar di kalangan seorang IT. Sebagian alasan untuk perencanaan business continuity adalah dengan melihat penggunaan teknologi serta memahami unsur – unsur rentan terhadap suatu jenis bencana.
Seperti dalam [2] , di dalam membuat sebuah dokumen BCP, terdapat beberapa tahapan yang harus dikerjakan, yaitu :
1.      Project Initiation
Tahap ini adalah salah satu elemen yang paling penting dalam perencanaan business continuity atau disaster recovery, karena tanpa dukungan penuh dalam suatu organisasi, rencana akan menjadi tidak lengkap. Sebagai seorang IT, mungkin ada batas pada apa yang dapat dilakukan untuk membuat keseluruhan fungsional suatu BCP. Sebuah rencana kontinuitas bisnis membuthkan partisipasi dari organisasi tersebut agar bisa mengidentifikasi kebutuhan suatu organisasi tersebut. Aspek penting lainnya dari perencanaan kontinuitas bisnis ini adalah arti dari sebuah proyek termasuk bisnis, fungsional, dan kebutuhan teknis. Elemen – elemen dari rencana proyek kontinuitas bisnis ini adalah elemen penting untuk kegiatan kontinuitas bisnis. Elemen – elemen tersebut antara lain, risk assessment, mitigation strategy development, plan development, emergency preparedness.
2.      Risk Assessment
Risk Assessment (penilaian resiko) adalah suatu proses untuk mengidentifikasi bahaya potensial dan menganalisa apa yang akan terjadi jika bahaya tersebut terjadi. Ada berbagai macam bahaya yang harus dipertimbangkan. Untuk setiap bahaya tersebut memiliki bermacam kemungkinan skenario yang bisa terungkap, tergantung pada waktu, besaran, dan lokasi bahaya. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk melakukan tahap ini adalah threat assessment, vulnerability assessment, dan impact assessment.
3.      Business Impact Analysis
Analisa dampak bisnis adalah pemahaman akan proses mana yang vital dalam suatu bisnis untuk berjalannya operasional dan untuk mengerti dampak dari terganggunya proses – proses tersebut. Ada empat tujuan utama dari tahap ini, yaitu :
a.       Mendapatkan pemahaman tentang tujuan paling penting dari suatu organisasi, prioritas masing – masing, dan jangka waktu untuk memulai kembali menyusun jadwal yang terganggu.
b.      Menginformasikan keputusan manajemen pada MTO (Maximum Tolerable Outage) untuk setiap fungsi.
c.       Memberikan informasi sumber daya dari strategi mana yang tepat digunakan untuk di rekommendasikan.
d.      Ketergantungan garis – garis besar yang ada baik secara internal dan eksternal untuk mencapai tujuan kritis.
4.      Mitigation Strategy Development
Mitigasi risiko didefinisikan sebagai pengambilan langkah – langkah untuk mengurangi efek-efek samping. Tahap ini adalah proses yang biasa digunakan dalam manajemen risiko, tetapi dalam hal ini mitigasi risiko juga berkaitan dengan kelangsungan bisnis dan pemulihan bencana. Terdapat tiga jenis mitigasi risiko, yaitu :
a.   Risk Acceptance
     Jenis ini sebenarnya bukan merupakan strategi mitigasi karena suatu organisasi hanya menerima sebuah risiko apa adanya, tanpa mengurangi efek risiko itu sendiri. Akan tetapi banyak perusahaan menerapkan strategi ini dengan alasan tertentu. Salah satunya adalah karena biaya dalam menerapkan strategi lainnya yang terlalu mahal.
b.   Risk Avoidance
     Risk avoidance adalah jenis mitigasi yang berlawanan dengan risk acceptance. Bagi kepentingan bisnis, strategi ini merupakan strategi yang diunggulkan. Strategi ini berupa sebuah tindakan pencegahan terhadap risiko yang akan terjadi dan membutuhkan biaya yang paling besar di antara strategi lainnya.
c.   Risk Limitation
                 Strategi ini adalah yang paling banyak dilakukan oleh perusahaan dengan menentukan batasan risiko yang dapat diterima dan mengambil tindakan yang dibutuhkan terhadap sebuah risiko.
d.   Risk Transference
     Strategi penanganan risiko ini dilakukan dengan melibatkan pihak ketiga. Sebuah risiko ditransfer kapada pihak ketiga. Suatu perusahaan melakukan outsource terhadap berbagai proses bisnis pendukung atau kurang kritikal, seperti customer service. Perusahaan harus membayarkan sejumlah biaya kepada pihak ketiga untuk menyewa jasanya dalam melakukan tindakan yang diperlukan terhadap resiko.
5.         BC/DR Plan Development
Puncak dari semua tahap pengembangan business continuity telah selesai ketika mencapai tahap ini. Pada tahap ini, semua tahap yang telah dijalankan akan menghasilkan sebuah BCP yang nantinya akan dijalankan dalam suatu organisasi atau perusahaan.

1.4  Alasan Perusahaan harus memiliki BCP
                        Menurut [5], Dalam membangun suatu perusahaan, Anda pasti akan mempertimbangkan segala aspeknya. Salah satu aspek penting adalah strategi Business Continuity Managemant (BCM) dan Crisis Management (CP). Business Continuity Plan (BCP) diperlukan agar proses operasional bisnis akan tetap berjalan apabila terjadi suatu bencana atau gangguan. Keharusan suatu perusahan memiliki BCP juga tertuang pada Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2012 pada pasal 17 ayat 1, 2 dan 3 yang berbunyi demikian :
(1) Penyelenggara Sistem Elektronik untuk pelayanan publik wajib memiliki rencana keberlangsungan kegiatan untuk menanggulangi gangguan atau bencana sesuai dengan risiko dari dampak yang ditimbulkannya.
(2) Penyelenggara Sistem Elektronik untuk pelayanan publik wajib menempatkan pusat data dan pusat pemulihan bencana di wilayah Indonesia untuk kepentingan penegakan hukum, perlindungan, dan penegakan kedaulatan negara terhadap data warga negaranya.
(3)   Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban penempatan pusat data dan pusat pemulihan bencana di wilayah Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh Instansi Pengawas dan Pengatur Sektor terkait sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan setelah berkoordinasi dengan Menteri.
                        Selain pasal 17, keharusan suatu perusahaan memiliki BCP terdapat pada Pasal 39 ayat 1 butir f dan g yang berbunyi demikian :
f. Memiliki rencana keberlangsungan bisnis termasuk rencana kontingensi yang efektif untuk memastikan tersedianya sistem dan jasa Transaksi Elektronik secara berkesinambungan; dan
g. Memiliki prosedur penanganan kejadian tak terduga yang cepat dan tepat untuk mengurangi dampak suatu insiden, penipuan, dan kegagalan Sistem Elektronik.





















DAFTAR PUSTAKA

[1](10 Maret 2016). Pengertian Bisnis. Akses :  http://www.businessdictionary.com/definition/business.html (URL)
[3] IFRC. (1 Juli 2016). What is a disaster?[online]. Akses : http://www.ifrc.org/en/what-we-do/disaster-management/about-disasters/what-is-a-disaster/ (URL)
[4] Snedaker, Susan. Business Continuity and Disaster Recovery Planning for IT Professionals,United State of America : Amorette Pedersen, 1986.
[5] sharingvision.com (Juli 2016). Sudahkan Perusahaan Anda Memiliki Business Continuity Plan?[online]. Akses : https://sharingvision.com/2013/03/sudahkan-perusahaan-anda-memiliki-business-continuity-plan/ (URL)